Puisi Cinta Deddy M Jend. Nagabonar
Posted by parhumbang on Apr 23 2007
Kalau orang tanya terakhir kapan ke Bioskop, jawabku pasti “lupa tuh….”
Bagaimana tidak lupa, kalau perlu nonton, tinggal beli VCD atau DVD nya, jauh lebih murah dan tidak perlu menyediakan waktu secara khusus untuk antri dan sebagainya.
Minggu kemarin, ini pengecualian.., Andika minta diantarin nonton Mr. Bean yang baru, tentu dia dengan teman-teman. Ya sudah as a good daddy (he he. he) .. berangkat deh..
Agreementnya, dia nonton aku main billyard.
Eh… pas disana lihat “Nagabonar jadi 2″, lihat produsernya, penulis scenario dan pemainnya, wow udah lama tidak lihat Deddy M “Jend. Nagabonar”. Ya akhirnya nonton.
Dan luar biasa, akan sangat menyesal kalau aku tidak nonton ini Film. Kesannya sangat dalam, bukan soal satire-satire yang diungkapkannya, tapi Puisi Cinta nya.
Penggambaran yang paling pas tentang Cinta - “Orangtua kepada Anak”, “Suami kepada Istri”, “anak kepada orangtua”, dan bahkan cinta kekasih Bonaga sama Monita, lengkap sudah.
Begitu pasnya Nagabonar, mengungkapkan kerinduannya mengelus kepala Bonaga, “anaknya” yang sudah berhasil dan merasa “malu” diperlakukan seperti anak.
Simak perbincangan mereka sambil duduk berbatas dingding, tentang ajaran kelembutan, cinta yang tidak diperoleh Bonaga, karena ditinggal ibunya. Penyesalan yang keluar dari mulut Nagabonar, pasti menggetarkan hati siapapun yang pernah merasa “anak”.
“maafkan bapakmu ini…. karena tidak bisa mengajarkanmu tentang kelembutan etc.. etc ”
Simak juga bagaimana “Bonaga” akhirnya bisa menerima bahwa “kuburan” yang dicintai dan sangat dihargai Bapaknya Nagabonar bukanlah “fisik” nya, tetapi cinta “Mak”, cinta “Kirana” dan om “Bujang” yang tetap hidup di hatinya.
Bagaimana sanggup menahan haru melihat Nagabonar “berusaha” menurunkan” tangan jenderal idolanya “Sudirman” karena tidak bisa menerima Jenderal Besar itu harus tetap “memberi hormat” meski tidak ada lagi yang peduli dengannya.
Atau lihat tanggapan Supir metromini yang sudah tidak peduli orang lain dengan dumelannya “makin banyak orang stress” menanggapi Nagabonar yang peduli sama “nenek” yang terbaring sakit.
Dan terakhir, ucapan Bonaga “Bapak tidak akan pernah mati, karena cinta bapak tetap hidup dihatiku” merupakan penutup yang cukup indah.
Terima kasih Jenderal, masih ada yang setia walau itu bekas “pencopet”

May 11th, 2007 at 3:02 pm
Yup, aku juga nonton film ini. Bagus, sarat dengan nilai dan pesan tetapi dikemas dalam bentuk yang tidak membosankan.
Btw, Gajah Mada yang terakhir dah keluar tuh
May 28th, 2007 at 10:06 pm
Gajah Mada sudah lama tamat mas,
Sekarang lagi Nyobain Mahabrata sama Ramayana.
Lumayan seru juga,
July 1st, 2007 at 11:29 am
Lumayan seru?
Berarti gak seru
July 2nd, 2007 at 10:55 pm
Sudah diselesaikan, dan sangat menarik.
Sangat jauh beda dengam bayangan saya sebelumnya.
Sekarang lagi habisin Trilogi Anak Manusia om Pram